Kesejahteraan · 4 menit

🪞

Body Image di Era Filter: Kenapa Kita Tidak Pernah Merasa Cukup

Body dysmorphia — gangguan di mana seseorang terobsesi pada "kekurangan" fisiknya — memiliki prevalensi 70,6% di kalangan remaja Indonesia. Ini angka tertinggi di antara semua indikator kesehatan mental yang disurvei (I-NAMHS, 2022).

TikTok dan Instagram memperbesar masalah ini. Filter kecantikan mengubah proporsi wajah dan tubuh menjadi standar yang secara fisik tidak mungkin dicapai tanpa editing. Tapi otak kita secara tidak sadar menerima gambar-gambar ini sebagai "normal".

"Beauty sickness" (Renee Engeln): Ketika seseorang menghabiskan begitu banyak energi mental untuk mengkhawatirkan penampilan fisiknya sehingga energi itu tidak tersedia untuk hal-hal lain yang lebih bermakna.

Konteks Indonesia: Body shaming — komentar soal berat badan, warna kulit, tinggi badan — masih umum terjadi baik online maupun offline. Cyberbullying berbasis penampilan fisik tercatat sebagai salah satu bentuk cyberbullying paling umum di Indonesia.

Langkah-langkah nyata: (1) Audit media sosial — kurangi akun yang mendorong standar kecantikan tidak realistis. (2) Ikuti akun body-neutral atau body-positive yang relevan. (3) Perhatikan cara kamu bicara soal tubuhmu dan tubuh orang lain — bahasa membentuk persepsi.

Yang penting diingat: Tubuhmu adalah tempat tinggalmu, bukan dekorasi. Fungsinya — napas, gerak, rasa — jauh lebih penting dari penampilannya.

#body image#body dysmorphia#media sosial#self-esteem#filter