Kesejahteraan · 4 menit
FOMO (Fear of Missing Out) adalah kecemasan bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih baik dari kamu — dan kamu tidak ada di sana. Di era TikTok dan Instagram, FOMO bukan lagi sesekali. Ini bisa terjadi puluhan kali sehari.
Riset menunjukkan FOMO berkorelasi signifikan dengan kecemasan, depresi, dan ketidakpuasan hidup, terutama pada usia 16–24 tahun. Di Indonesia, 95,4% remaja pernah mengalami gejala kecemasan — dan media sosial adalah salah satu pemicunya.
Mekanismenya: TikTok dan Instagram hanya menampilkan highlight — bukan realitas. Algoritma memilihkan konten yang paling memicu reaksi emosional, termasuk kecemasan sosial. Otak kamu membandingkan realitas harianmu dengan highlight terbaik ribuan orang sekaligus.
Paradoks FOMO: Semakin kamu scroll untuk "mengecek", semakin kuat FOMO-mu. Koneksi online tidak mengisi kebutuhan koneksi yang sebenarnya — justru memperbesar rasa kosong.
Lawan FOMO dengan JOMO (Joy of Missing Out): Nikmati apa yang ada sekarang. Matikan notifikasi. Jadwalkan waktu tanpa layar. Alihkan pertanyaan "Apa yang saya lewatkan?" menjadi "Apa yang benar-benar penting untuk saya hari ini?"
Latihan: Selama 3 hari, catat kapan kamu merasa FOMO. Situasi apa, konten apa, jam berapa. Pola yang kamu temukan akan membantumu membuat batas yang lebih sadar.